Artikel

SIAPKAH KITA MENJADI PEMIMPIN ?

    Dibaca 9089 kali

SIAPKAH KITA MENJADI PEMIMPIN ?

Oleh : H. ATENG KUSNANDAR ADISAPUTRA

(Kepala Bidang Kesejahteraan Dan Disiplin, BKD Provinsi Jawa Barat)

 

SETIAP ORANG ADALAH PEMIMPIN

Pada dasarnya setiap orang adalah pemimpin, dan hampir seluruh waktu yang kita miliki digunakan untuk memimpin diri sendiri, baik di kehidupan rumah tangga maupun dalam berinteraksi dengan pekerjaan di kantor. Tidak ada seorang pun yang mampu mengatur dan menguasai diri kita sepenuhnya selain diri kita sendiri.

Meskipun kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri, namun kita tidak bisa lepas dari pengaruh orang lain. Dalam hidup kita, kita juga membutuhkan kepemimpinan orang lain agar kita tidak salah dalam melakukan pekerjaan yang diperintahkan kepada kita. Misalnya, kita membutuhkan kehadiran orang tua, guru, dosen, atasan, atau orang lain yang mampu mempengaruhi kita dalam proses pencapaian tujuan (goal) dalam hidup kita.

Memimpin diri sendiri tidaklah lebih mudah daripada memimpin orang lain. Hal ini sering disebabkan oleh ketidakjelasan dan ketidaktegasan aturan diri yang kita buat. Terlebih bila kita membuat suatu pelanggaran, hanya kita sendirilah yang tahu. Dengan demikian, komitmen diri yang kita bangun semakin lama akan luntur dan kabur sehingga tanpa sadar kita justru menjerumuskan diri kita sendiri.

Sepandai apa pun seseorang menjadi pemimpin, kepemimpinan tunggal pastilah mempunyai banyak kelemahan dan kekurangan. Dengan demikian, kita tetap membutuhkan kehadiran orang lain sebagai fungsi control atau bahkan sebagai pemimpin kita yang lebih tinggi karena memang tak ada satu manusia pun yang sempurna, masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan.

Menjadi pemimpin tak semudah yang dibayangkan orang, ia harus siap lahir dan batin. Bukan saja siap secara intelektual, namun siap pula moralitasnya. Seorang pemimpin adalah sosok figur yang didambakan masyarakat atau pengikutnya atau bawahannya, karena itu setiap langkah dan perilakunya harusnya menjadi teladan dan patut diteladani. Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki kemampuan di atas pengikutnya, bawahannya atau masyarakat pada umumnya. Singkatnya seorang pemimpin harus memiliki kelebihan atau nilai positif dibandingkan dengan yang lainnya.

Beranjak dari permasalahan di atas, dalam tulisan ini akan diuraikan pengertian pemimpin dan manager,  keahlian-keahlian atau kompetensi-kompetensi apa sajakah yang semestinya di miliki atau dikuasai oleh seorang pemimpin.

Pemimpin dan Manager

Menurut kamus besar bahasa Indonesia leader itu berarti pemimpin, sedangkan manager adalah pemimpin perusahaan. Apabila melihat definisi di atas pemimpin (leader) itu lebih bersifat umum, pemimpin (leader) tidak diberi batasan-batasan (pengkhususan), berbeda dengan manager, manager juga pemimpin tetapi lebih dikhususkan dalam hal perusahaan.

Sebutan “Pemimpin” dan “Manager” tidaklah perlu dicampuradukan, karena kepemimpinan (leadership) adalah bagian tersendiri dari manajemen. Manager melaksanakan fungsi-fungsi  penciptaan, perencanaan, pengorganisasian, memotivasi, komunikasi dan pengendalian. Termasuk dalam fungsi-fungsi itu adalah perlunya pemimpin untuk mengarahkan. Bagaimanapun juga, kemampuan seorang manager untuk memimpin secara aktif akan memengaruhi kemampuannya untuk mengelola, tetapi seorang pemimpin hanya membutuhkan kemampuan untuk memengaruhi perilaku orang lain.

Sebutan lain yang sama dengan pemimpin adalah “atasan, “kepala”. Dalam lingkup publik atau pemerintahan, pemimpin dikenal dengan istilah “Pejabat”, yaitu seseorang yang diangkat untuk menduduki/memangku suatu jabatan. Makanya dikenal sebutan  Pejabat Struktural : Eselon I, Eselon II, Eselon III, dan Eselon IV.

Keahlian dan Kompetensi Pemimpin

Para pakar di bidang manajemen khususnya dalam hal membahas kepemimpinan, dalam memandang atau merumuskan keahlian-keahlian atau kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin berbeda-beda, tergantung kepada sudut pandang, cara berpikir  dan pengalamannya.

Maxwell, mengemukakan cirri-ciri pemimpin yang baik adalah : mampu menciptakan lingkungan yang tepat, mengetahui kebutuhan dasar bawahannya, mampu mengendalikan keuangan, personalia, dan perencanaan, mampu menghindari tujuh dosa yang mematikan (berusaha untuk disukai bukan dihormati, tidak minta nasihat dan bantuan kepada orang lain, mengesampingkan bakat pribadi dengan menekan peraturan bukan keahlian, tidak menjaga untuk dikritik tetap konstruktif, tidak mengembangkan rasa tanggungjawab dalam diri orang lain, memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama, tidak membuat setiap orang selalu mendapat informasi).

Bennis & Townsend, mengatakan cirri-ciri pemimpin yang baik adalah : pandangan tentang ambisi pribadi yang terkendali, intelegensia, kemampuan untuk mengutarakan diri, kemampuan menjadi pelayan bagi bawahannya, jangan memberikan kekuasaan kepada orang lain yang terlalu banyak menginginkannya, objektivitas yang tinggi, seseorang pemimpin yang tidak pernah mengambil penghargaan.

Menurut Peter Senge, dalam bukunya “The Fifth Discipline”, pemimpin adalah orang yang terus menerus belajar, membangun organisasi pembelajar dan selalu berpikir system. Hal ini berarti, pemimpin mencermati keterkaitan antara kejadian, masalah, fenomena secara utuh sehingga mampu membuat prediksi tentang kejadian yang akan dating. Bahkan mampu merubah arah kepada kejadian yang diinginkan bersama dengan yang dipimpin.

M. P. Gardner (1987),  berpendapat karakteristik keahlian yang harus dimiliki oleh pemimpin adalah : vitalitas fisik dan stamina, intelegensia, kemauan menerima tanggungjawab, kompetensi penugasan, memahami kebutuhan orang lain, terampil berurusan dengan orang, ingin berhasil, kemampuan memotivasi, keberanian, keteguhan dan ketahanan pribadi, kemampuan memenangkan kepercayaan, kemampuan untuk memenejemani, memutuskan dan menetapkan prioritas, adaptasi dan fleksibilitas.

Menurut Nanus (1992), terdapat empat peran kritikal bagi kepemimpinan efektif, yaitu : sebagai penentu arah (direction setter), sebagai agen perubahan (change agent), sebagai pelatih (coach), dan sebagai juru bicara (spokesperson).

MenurutKeith Davis, seorangpemimpin yang suksesmempunyai karakter dasar sebagai berikut : Kecerdasan (intelligence), kedewasaan social dan hubungan social yang luas (social maturnity and breadth), motivasi diri dan dorongan berprestasi, sikap-sikap hubungan manusiawi

 Soejitno Irmin dan Abdul Rochimdalam bukunya “Bekal Minimal Seorang Pemimpin”, memberikan 10 aspek yang harus dikuasai oleh seorang pemimpin yaitu :

1.    Memiliki Kharisma, meliputi : perilakunya terpuji, jujur dan dapat dipercaya, memegang komitmen, memiliki prinsip hidup yang kuat, konsisten dengan ucapannya, memiliki ilmu agama yang memadai;

2.    Memiliki keberanian, meliputi : berani membela yang benar, berpegang teguh pada pendirian yang benar, tidak takut gagal, berani mengambil resiko, berani bertanggungjawab;

3.    Mampu berpidato, tercermin dalam : mampu merangkai kata-kata, mampu menyederhanakan masalah, bicara menarik perhatian, penjelasannya sederhana dan mudah ditangkat, mampu menyentuh nurani, mengetahui selera pendengar, menguasai beberapa bahasa;

4.    Mampu mempengaruhi orang lain, dapat dilihat dari : membuat orang lain merasa penting, membantu kesulitas orang lain, mengemukakan wawasan dengan cara pandang positif, tidak merendahkan orang lain, siap menjadi sukarelawan, memiliki keahlian atau kelebihan;

5.    Mampu membuat strategi, tercermin dalam : menguasai medan, memiliki wawasan luas, berpikir cerdas, kreatif dan inovatif, mampu melihat masalah secara komprehensif, mampu menyusun skala prioritas, mampu memprediksi masa depan

6.    Memiliki moral yang tinggi, dapat dilihat dari : tidak mau menyakiti orang lain, menghargai siapa saja, bersikap santun, tidak suka konflik, tidak mau memiliki yang bukan haknya, perkataannya terkendali, tindak-tanduknya senantiasa menjadi contoh;

7.    Memiliki rasa humor, tercermin dalam : murah senyum, mampu memecahkan kebekuan suasana, mampu menciptakan kalimat yang menyegarkan, setiap masalah dihadapi dengan wajah ceria, kaya akan cerita dan kisah-kisah lucu, mampu menempatkan rasa humor pada situasi yang tepat;

8.    Mampu menjadi mediator, tergambarkan dalam : berpikir secara positif, setiap ada masalah mampu berada di tengah, memiliki kemampuan melobi, mampu mendudukkan masalah secara professional, mampu membedakan kepentingan pribadi dan kepentingan umum;

9.    Mampu menjadi motivator, tercermin dalam : memiliki kepedulian terhadap orang lain, memberikan nasihat, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, menyakinkan orang lain, mengerti keinginan orang lain, mampu menempatkan diri;

10.              Mampu mengendalikan diri, tergambarkan dalam : menjadikan hati nurani sebagai pelita hidup, mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil, mampu mengendalikan emosi, tidak serakah, tidak takabur, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selanjutnya menurut Stogdill, ada 10 karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang baik yaitu : rasa tanggungjawab, mementingkan penyelesaian tugas, semangat, kemauan keras, mengambil resiko, kepercayaan diri, orisinalitas, kapasitas untuk menangani tekanan, kapasitas untuk mempengaruhi, kapasitas mengelola organisasi.

Sedangkan Sondang P. Siagian, menetapkan 5 fungsi kepemimpinan, yaitu : pemimpin sebagai penentu arah, pemimpin sebagai wakil dan juru bicara organisasi, pemimpin sebagai komunikator yang efektif, pemimpin sebagai mediator, pemimpin sebagai integrator.

Adapun John Adair, mengemukakan rata-rata orang yang memegang kedudukan pimpinan mengungguli rata-rata anggota kelompoknya dalam ha-hal : kecerdasan, pendidikan, daya andal dalam melaksanakan tanggungjawab, aktivitas dan partisipasi social, dan status ekonomi sosial.

Joko Widodo, mengemukakan kualifikasi aparatur pemerintah, terutama para pemimpin dalam birokrasi publik, setidaknya dapat diidentifikasikan kompetensi dan keahlian sebagai berikut :

a.    Memiliki kompetensi dan profesionalisme dalam melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok, fungsi, kewenangan, dan tanggungjawabnya;

b.    Memiliki vidi ke depan yang jelas, terutama yang menduduki jabatan pimpinan;

c.    Memiliki sikap dan perilaku yang baik, yang layak menjadi panutan masyarakat yang dilayaninya;

d.    Memiliki manajemen yang andal berupa manajemen yang kondusif, kompetitif, responsive, dan adaftif dalam menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan dan layanan masyarakat.

Lembaga Administrasi Negara (2003), mengemukakan pemimpin birokrasi pemerintah ke depan dipersyaratkan mampu memainkan peran baru, yaitu sebagai perancang, sebagai guru, dan sebagai pelayan public. Sebagai perancang, seorang pemimpin harus mampu merancang atau merumuskan apa yang menjadi visi, misi, tujuan, sasaran, nilai-nilai organisasi, dan member peluang kepada orang-orang yang ada dalam organisasi untuk berperan serta. Selain itu, seorang pemimpin harus mampu merumuskan apa yang menjadi kebijakan, strategi, dan struktur pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Sebagai guru, seorang pemimpin harus mampu membangkitkan organisasi pembelajaran, yakni membantu orang-orang yang ada dalam organsisi untuk memahmi realitas yang ada secara tepat, cepat, dan benar. Artinya, seorang pemimpin harus mampu membuat organisasi sebagai tempat belajar bagi para strafnya.

Dalam hal memilih seorang pemimpin, Imam al-Hakim meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas r.a., yang menuturkan, Rasulullah SAW, bersabda : “Barangsiapa memilih seorang pemimpin untuk suatu kelompok yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhoi Allah daripada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman”. Hadits ini mengisyaratkan kepada kita, bahwa memilih pemimpin bukanlah hal yang sederhana. Ini masalah prinsip, dan karena itu mesti cermat betul sebelum menjatuhkan pilihan pada seorang calon.

Selanjutnya, dalam Hadits yang diriwayatkan Imam Nasai, Rasulullah SAW, bersabda : “Bilamana Allah menghendaki kebajikan ada pada seorang Amir (pemimpin), maka Dia menjadikan untuknya adanya seorang patih (pembantu) yang setia  : bilamana ia lupa patih  akan mengingatkannya dan bilaman ia ingat, Patih akan membantunya. Bilaman Allah  menghendaki  selain dari itu (calon pemimpin yang buruk), maka Dia menjadikan untuknya seorang patih yang jahat : yaitu apabila ia lupa, patih tidak akan mengingatkannya, dan bilamana ia ingat, patih tidak akan membantunya”.

Dalam Hadits Riwayat Imam Thabrani : melalui Abu Sulalah r.a, Rasulullah SAW, bersabda : “Kelak akanada pemimpin yang menguasai rizki kalian : mereka berbicara (manis) pada kalian tetapi mereka berdusta ; dan mereka bekerja, tetapi mereka mencaci maki pekerjaannya. Mereka selalu merasa tidak puas sebelum menganggap baik perbuatan buruk mereka dan membenarkan kedustaan mereka. Maka berikanlah  kepada mereka perkara yang hak selagi meraka rela dengan perkara yang hak itu, Barangsiapa yang terbunuh karena membela perkara yang hak itu, dia mati syahid”.

 

 

Kesimpulan

1.    Sesungguhnya setiap manusia dilahirkan menjadi PEMIMPIN, karena anda telah menjadi pemenang diantara 200 juta sel sperma dan setiap manusia akan diminta pertanggungjawabannya atas apa yang dipimpinnya;

2.    Setiap manusia adalah pemimpin pada hakikatnya;

3.    Problematika yang muncul di dunia ini, juga menjadi penyebab munculnya pemimpin;

4.    Leaderadalah pemimpin yang masih umum, sedangkan manajer itu pemimpin yang khusus pada perusahaan meski pandangan ini sering di balik;

5.    Sebelum orang memimpin dalam lingkup luas atau besar, ia harus bias memimpin dalam lingkup kecil yaitu mulai dirinya, keluarganya, kantornya, perusahaanya hingga Negara;

6.    Pemimpin harus bias mensejahterakan pengikutnya dan tidak mementingkan dirinya sendiri, serta tidak merugikan orang lain dan lingkungan sekitarnya;

7.    Segala masalah yang muncul merupakan tantangan tersendiri bagi seorang pemimpin dan manajer.

Daftar Pustaka :

1.        Aam Amiruddin, Kunci Sukses Meraih Cinta Ilahi, Khazanah Intelektual, 2009;

2.        Abdul Rochim & Soejitno Irmin, Bekal Minimal Seorang Pemimpin, Penerbit Selaras, 2008;

3.        Darmo Budi Suseno, Leader Yang Ship (Panduan kepemimpinan Praktis dan Efektif), Milestone, 2009;

4.        Dodi Ahmad Fauzi, Bagaimana Menjadi CEO Yang Handal, Restu Agung, 2007,

5.        Fatihuddin Abul Yasin, 75 Wasiat Rasulullah SAW, Terbit Terang, 2006;

6.        F. Rudy Dwiwibawa & The Riyanto, Siap Jadi Pemimpin, Kanisius, 2008;

7.        Harbani Pasolong, Kepemimpinan Birokrasi, Alfabeta, 2008;

8.        Herry Mohammad, 44 Teladan Kepemimpinan Muhammad, Gema Insani, 2008;

9.        Hussein Bahreisj, Hadits Shahih, Karya Utama, tanpa tahun;

10.    Joko Widodo, Membangun Birokrasi Berbasis Kinerja, Bayumedia, 2007;

11.    John Adair, Menjadi Pemimpin Efektif, Pustaka Binaman Pressindo, 1994;

12.    J. Salusu, Pengambilan Keputusan Stratejik, Grasindo, 2008;

13.    Lembaga Administrasi Negara, Modul Diklatpim Tk. II (Kajian Paradigma Kepemimpinan, 2010; 

14.    M. Musrofi, Creative Manager, Elex Media Komputindo, 2008.