Berita

Penyandang Cacat Ajukan Judicial Review UU Kepegawaian

    Dibaca 3605 kali

Jakarta - Wuri Handayani (34), seorang penyandang cacat yang ditolak mengikuti tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Pemkot Surabaya, Jawa Timur berencana mengajukan judicial review UU Kepegawaian dan UU Kewarganegaraan. Alasannya, kedua UU itu mencantumkan syarat sehat jasmani dan rohani yang dinilainya diskriminatif bagi penyandang cacat yang ingin bekerja dan memperoleh kewarganegaraan. "Kriteria sehat jasmani dan rohani sangat tidak jelas dan membatasi akses teman-teman para penyandang cacat. Untuk itu kami akan mengajukan judicial review sejumlah produk UU, khususnya UU Kepegawaian dan Kewarganegaraan," kata Wuri. Hal ini disampaikan dia dalam jumpa pers yang didampingi pengacara publik LBH Jakarta Febi Jonesta di LBH Jakarta, Jalan Diponegoro, Jakarta, Rabu (4/10/2006).

Menurut dia, pasal 12 UU 8/1974 tentang Kepegawaian dan pasal 9 UU 12/2006 tentang Kewarganegaraan mencantumkan persyaratan sehat jasmani dan rohani yang sangat diskriminatif. Wuri mengaku sejauh ini pihaknya masih melakukan penelitian produk UU mana saja yang mencantumkan persyaratan itu. "Jadi kapan waktunya akan diajukan, saya masih akan koordinasi dengan teman-teman yang saat ini masih melakukan penelitian terhadap sejumlah produk UU bersama LBH Jakarta," jelas dia.

Dia juga mengaku berada di Jakarta untuk meminta percepatan penyelesaian gugatannya ke Pemkot Surabaya yang saat ini sudah dalam tingkat kasasi di MA. Wuri menceritakan, gugatannya dilayangkan ke Pemkot Surabaya karena telah menolak dirinya untuk mengikuti tes CPNS pada 2004. Penolakan itu dengan alasan bahwa dirinya tidak memenuhi kriteria sehat jasmani dengan alasan menggunakan kursi roda. Saat itu Wuri menggugat Pemkot Surabaya ke PTUN Surabaya. PTUN mengabulkan gugatannya dengan keputusan membatalkan surat Walikota Surabaya dan memberi kesempatan kepada Wuri untuk mengikuti pendaftaran seleksi CPNS berikutnya.

Keputusan itu dikuatkan dengan keputusan PTUN Jawa Timur. Namun ternyata Pemkot Surabaya melakukan perlawanan hukum hingga masuk ke kasasi MA. "Saya datang ke Jakarta untuk percepatan kasasi di MA. Ini kan sudah dua tahun," ujar Wuri yang mengalami cacat akibat kecelakaan dalam pendakian di Gunung Cartenz, Jaya Wijaya, pada tahun 1993.

Dia mengaku selama ini sejak lulus dari Universitas Airlangga, Surabaya pada 1998 sudah enam kali melamar pekerjaan sebagai dosen di almamaternya, tetapi selalu gagal karena perguruan tinggi tidak bisa menerima dengan alasan sama, yakni cacat. "Ini yang saya perjuangkan selama ini. Tidak hanya bagi saya sendiri, tapi bagi rekan cacat lainnya. Siapa sih yang sebenarnya mau cacat," tandas Wuri.