Ambang Batas Kapasitas
Aparatur merupakan profesi yang menuntut kesiagaan setiap saat. Sebagai garda terdepan pelayanan publik, Aparatur dituntut mampu merespon setiap situasi yang terjadi dimasyarakat. Dalam keadaan tertentu, Aparatur dituntut merespon tugas dengan tengat waktu yang berdekatan dan jenis tugas dengan resiko yang beragam. Dalam setiap pelaksanan pekerjaan, Aparatur dituntut cermat untuk melaksanakan tugas sesuai dengan ketentuan dan kewenangan jabatan serta instansinya. Pada saat tugas dengan tekanan tinggi, atau tugas yang memerlukan kordinasi sementara tugas rutin juga harus diselesaikan, Aparatur sebagai individu berpotensi masuk pada situasi dimana tekanan akibat tuntutan pekerjaan akan berlangsung panjang. Munculnya perasaan tidak mampu menghadapi banyak tuntan peran dan pekerjaan dikenal dengan istilah 'Burnout'.
Burnout umumnya merupakan keadaan kelelahan jangka panjang yang disebabkan volume dan durasi kerja yang terlalu panjang dan kurangnya minat pada pekerjaan tersebut. Kondisi ini berbeda untuk tiap individu, meskipun pola volume dan durasi pekerjaan sama . Pada sebagian orang, mereka tidak merasakan kelelahan atau Burnout. Burnout sangat berdampak pada pengambilan keputusan serta individu akan merasakan kehilangan energi secara tiba tiba. Situasi ini mengakibatkan turunnya produktivitas dan berpotensi berkurangnya kepercayaan diri dalam menyelesaikan tugas. Situasi kelelahan juga berpotensi mengganggu relasional baik di tempat kerja maupun di kehidupan pribadi individu. Burnout merupakan salah satu risiko bekerja yang perlu dikekola dan ditangani agar tidak berdampak luas keppada aspek pekerjaan lainnya.
ada Burnout dan Stres
Kondisi stres merupakan salah satu pemicu munculnya Burnout. Pada kondisi stres, tubuh memproduksi hormon stres, termasuk kortisol dan adrenalin, yang berfungsi untuk mempersiapkan tubuh dalam merespon tekanan, apakah melawan atau menyerah. Hormon ini dikenal 'fight, fright or flight' hormon. Jika hal ini berlangsung panjang, muncul reaksi fisik seperti peningkatan detak jantung, aliran darah yang terganggu, kehilangan nafsu makan, gelisah, gugup, dan cenderung mudah beraksi secara emosiaonal. Stres sebenarnya dapat memicu produktivitas. Makala kita berhasil mencapai sesuatu atau melampaui tantangan, maka pengalaman stress akan ditangkap tubuh sebagai ‘persiapan’ keberhasilan. Seperti kendaraan dengan bahan bakar berkualitas super, tubuh akan diberikan energi berjuang melalui stress yang dirasakan.
Stress ditempat kerja pada umumnya dipicu oleh multifaktor , selain kesulitan melaksanakan tugas, stress dipicu oleh hubungan dengan rekan kerja dan situasi pribadi atau keluarga pegawai. Karenanya , sangat penting bagi kita, untuk membangun hubungan kerja, dengan melatih komunikasi, membangun rasa kekeluargaan, untuk setidaknya menghilangkan satu faktor pemicu stress.
Burnout diawali dengan kelelahan dan lemas yang tinggi sehingga muncul reaksi fisik seperti mengantuk, pusing, atau mata berkunang serta kehilangan gairah dalam melakukan apapun. Pada saat kelelahan, sadari bahwa Individu sulit untuk melakukan kegiatan apapun serta sulit untuk memberikan perhatian pada banyak hal. Yang diperlukan adalah, berhenti sejenak, berisitirahat atau tidak melakukan apa apa untuk mengembalikan energi dan membagun dorongan bekerja.
Menghindari Burnout
Mencegah lebih baik daripada mengobati
Kenali apa penyebab stress yang dimiliki, dan kenali polanya , kapan dan pada situasi apa saja tekanan muncul. Minta rekan atau kerabat untuk mereflesikan kapan dan pada situasi mana anda tampak berubah dan menjadi lebih emosional. Setelah diperoleh polanya , siapkan strategi menghindari situasi situasi tersebut dan strategi mengelola diri.
Kendali Diri
Beberapa pendapat mengidentifikasi bahwa situasi yang paling membuat stres adalah situasi dimana individu tidak memegang kendali atas terjadinya suatu. Kendalikan diri mulei dari hal kecil, seperti menentukan rute perjalanan, gaya berpakaian, dan pilihan lain dimana Anda bisa menjadi penentunya. Biasakan bernegosiasi untuk situasi yang Anda tidak inginkan, agar secara mental, Anda merasakan sudah berupaya.
Buat Prioritas kehidupan kerja dan kehidupan pribadi
Selesaikan dengan segera tugas yang menjadi tanggung jawab anda, agar punya lebih banyak waktu untuk mengerjakan hal yang di sukai. Hal ini tidak mudah, perlu rekayasaya situasi ( mensunyikan perangkat, menahan diri untuk fokus pada tugas, dan menghindari percakapan yang membuang waktu). Penyelesaian tugas, menghasilkan rasa lega yang membangkitkan rasa positif.
Olah Raga
Berolahraga untuk kebugaran menghasilkan aliran darah dan oksigen yang lebih baik, sehingga energi aktivitas meningkat . Olahraga juga melepaskan endorfin, yang menghasilkan rasa nyaman.
Mencari bantuan
Jika kondisi bertambah buruk, jangan malu mencari bantuan pihak professional, seperti dokter atau konselor atau bahkan atasan yang dapat membantu mengatur irama dan volume pekerjaan.
Kebijakan Organisasi Yang Mendukung
Budaya Kerja
Adanya tugas dengan tengat waktu dan tugas yang terfokus hanya pada satu pegawai, membuat pegawai harus bekerja keras bahkan mengerjakan pekerjaan orang lain. Hal ini menyebabkan rendahnya produktivitas dan menurunkan motivasi kerja. Perlunya budaya kerja yang saling mendukung dan saling membantu, memperlakukan pegawai dengan hormat, menempatkan pegawai sebagai individu yang unik, bukan hanya sebagai sarana mencapai tujuan. Budaya kerja yang memberikan ruang ekspresi bagi pegawai, akan menghasilkan kepuasan pegawai dan menghapus perasaan pegawai dari kerja secara terpaksa.
Fleksibilitas
Aparatur sebagai individu memiliki peran kehidupan pribadi yang berbeda beda. Pegawai dengan keluarga muda, dituntut juga memastikan kebutuhan anak atau orangnya terpenuhi , sebelum mereka berada di kantor. Mereka cenderung memerlukan berangkat ke kantor lebih siang. Aparatur dengan keluarga menengah cenderung memerlukan pulang tepat waktu. Aparatur senior cenderung memerlukan ruang kerja dan kreativitas dengan privasi tertentu. Perbedaan kondisi ini memerlukan penanganan kebijakan kerja fleksibel, sehingga menurunkan tingkat stres dan meningkatkan produktivitas. Fleksibilitas ini mencakup :
- Fleksibilitas waktu kerja
- Fleksibilitas lokasi kerja
- Felksibilitas untuk memanfaatkan keterampilan inovatif dan ide kreatif untuk memecahkan masalah dan mencapai target kinerja organisasi.
- Fleksibilitas kebebasan untuk mendekorasi dan menata ruang kerja, bahkan menyimpan foto orang orang yang memotivasi individu .
- Fleksibilitas berupa jam kerja komulatif bagi aparatur yang betugas jauh dari rumah dalam bentuk jam kerja komulatif. Aparatur dapat mengkomulatifkan akhir pekan sebagai jam kerja serta perjalanannya menuju tempat kerja , sehingga jam kerja dalam 1 bulan dapat dicapai dalam beberapa minggu.
- Fleksibilitas penugasan dinamis juga memberikan ruang bagi aparatur untuk berputar lokasi tugas terutama pada tugas dimana SOP tersedia dan karakteristik kebutuhan keterampilan yang sama. Aparatur dapat secara bergantian, berdinas di lokasi kerja yang jauh selama beberapa hari, lalu kembali ke kantor induk.
- Fleksibilitas bagi apatur diterapkan dengan mengutaman kesiagaan, mengutamakan tugas dari urusan pribadinya .
Apresiasi
Menghargai upaya pegawai merupakan upaya menjaga produktivitas dimana segala waktu dan tenaga yang dikeluarkan membawa hasil. Para aparatur bekerja tidak hanya untuk mempertahankan hidup dan mengaktualisasikan dirinya , namun mereka bertugas untuk berkontribusi pada perubahan positif di Masyarakat serta kemajuan negara. Sebagai aparatur, apresiasi yang diterima dari Masyarakat dan apresiasi dari atasan pengguna hasil kerja merupakan salah satu sumber kepuasan kerja serta memberikan kebermaknaan dalam diri aparatur. Apresiasi langsung dari pengguna hasil kerja dan atasan langsung secara tidak langsung akan membangun harapan dan kesempatan untuk maju, memperbaiki diri, dan memberikan rasa berharga sebagai individu yang penting.
Burnout yang disadari oleh aparatur dan para atasan dapat menjadi media saling membantu, saling menolong, dan saling menghargai. Setiap aparatur hendaknya menyadari bahwa manusia tidak dapat berdiri sendiri serta senantiasa memerlukan lingkungan yang saling mendukung, agar dunia kerja dapat menjadi wadah pengembangan pribadi aparatur sebagai indvidu . Aparatur yang bebas dari kondisi Burnout akan menjamin pelayanan kepada Masyarakat dihadirkan melalui para apatur yang semangat dan berkinerja optimal.
rk .



).png)

Link Penting