Bandung – Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) BKD Provinsi Jawa Barat, menunjukkan pesona yang berbeda dari biasanya. Lutfi Erlita Widiasih, hadir sebagai seorang penulis sekaligus ilustrator buku cerita anak yang berjudul “Nay dan Bunga Lotus”. Karya ini bukan sekadar visual yang cantik, namun juga instrumen yang memotivasi dan mendidik bagi anak-anak.
Sentuhan kasih Erlita untuk literasi di Majalengka terinspirasi dari sosok penguasa Majalengka, Nyi Rambut Kasih, sehingga terciptalah tokoh “Nay”. Rendahnya budaya literasi serta kondisi ekonomi di desa kelahirannya, Majalengka, memotivasi Erlita untuk memberikan warisan pendidikan agar anak-anak semangat belajar meski dalam keterbatasan.
Bunga Lotus pada judul buku dipilih karena kemampuannya untuk tetap mekar meski tumbuh di lingkungan bagaimanapun. Filosofi yang mendalam ini diharapkan bisa menjadi pegangan bagi anak-anak agar tidak mudah menyerah serta tangguh di segala kondisi.
“Kita tidak boleh menyalahkan keadaan atau orang tua, tetapi harus kuat dan bermanfaat,” ujar Erlita.
Buku ini juga menonjolkan pentingnya peran ayah dalam literasi, yang digambarkan dengan interaksi antara Nay dan ayahnya, Prabu. Keterlibatan ayah dalam membacakan cerita dan menanamkan nilai-nilai moral sangat krusial bagi perkembangan psikologis anak. Hal ini menjadi pengingat bagi para orang tua untuk memanfaatkan momen dan membangun kedekatan emosional.
Erlita memberikan pandangan baru bahwa literasi di era digital memiliki spektrum yang luas. Baginya, literasi adalah kemampuan memahami isi, menganalisis informasi, memilah berita bohong (hoax), hingga menemukan solusi dari sebuah permasalahan.
“Literasi itu harus bisa menjadi inovasi yang meningkatkan nilai diri kita. Di era sekarang, kita harus cerdas memilah informasi dan memiliki motivasi internal untuk terus ‘melek’ pengetahuan,” jelasnya.
Kesibukannya dengan kegiatan organisasi dan bisnis fashion tidak mempengaruhi Erlita untuk menyalurkan hobi menggambarnya. Buku “Nay dan Bunga Lotus” merupakan karya pertamanya menggunakan watercolor untuk menggambarkan tokoh manusia. Melukis merupakan bentuk terapi diri sekaligus penghibur bagi Erlita.
“Suatu karya yang besar akan dimulai dari suatu karya kecil. Kita tidak boleh hanya menggantungkan penilaian orang lain, tetapi harus bangga atas apa yang kita hasilkan untuk masyarakat,” ungkapnya.
Erlita berharap semangat literasi bisa terus tumbuh, baik melalui buku fisik maupun edukasi digital yang positif di lingkungan keluarga ASN Jawa Barat, anggota DWP, perempuan Indonesia, dan seluruh masyarakat.
Simak kisah inspiratif Lutfi Erlita Widiasih selengkapnya dalam Ajib Podcast yang dapat diakses di kanal YouTube BKD Jabar serta Spotify. Mari tumbuhkan budaya literasi demi masa depan generasi yang lebih berani, karena inspirasi dalam setiap halaman adalah kunci perubahan bagi negeri.
(TIM HUMAS BKD JABAR)


).png)

Link Penting